rangkuman bab 1 tasawuf

NAMA:RATNA MURNI
NIM:1920100123
MATKUL:FILSAFAT ILMU
PAI 4



Filsafat Islam yang menurut Mulyadhi Kertanegara berkembang 
pesat dalam tasawuf bagi para ilmuwan sekarang menjadi menarik. 
Menarik karena ia berupa mistik yang tidak masuk akal manusia, tapi 
kadang-kadang empirik hasilny
[ Harun Nasution mengatakan bahwa tasawuf adalah jalan menuju 
Tuhan. Kalimat memuat dua kata kunci penting, yaitu jalan dan tujuannya 
Tuhan. Sebagai jalan, tasawuf adalah salah satu jalan mengenal Tuhan. 
Jalan mengenal Tuhan bisa juga diartikan, jalan mendekatkan diri 
kepadaNya. Bisa juga maksudnya, metode sistematis untuk menuju Tuhan. 
Lebih teknis kelak dalam tasawuf dikenal dengan tarekat. Tarekat itu 
bagaikan organisasi yang memandu jalan menuju Tuhan
[5/3 10:48] Tujuan bertasawuf sebagaimana dikemukakan Harun Nasution 
adalah ―Menuju Tuhan‖. Terminal terakhir perjalanan itu adalah tempat di 
mana bisa bertemu dengan Tuhan. Bertemu dengan Tuhan, jangan 
dipahami secara fisik, walaupun ada yang berpendapat kelak di akhirat 
orang yang masuk surga dapat bertemu denganNya. 
Semua kebaikan yang diperintahkan oleh Allah Swt. 
Mulyadhi Kartanegara. Ia katakan bahwa tasawuf salah satu cabang ilmuilmu keislaman yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. 
Lebih lanjut Mulyadhi menjelaskan aspek spiritual menekankan aspek 
rohaninya ketimbang aspek jasmaninya. Tasawuf lebih menekankan 
kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Tasawuf lebih menekankan 
aspek esoterik ketimbang eksoterik, dan lebih menekankan penafsiran 
batin ketimbang penafsiran lahiriah.
Ada empat kata kunci yang perlu digarisbawahi tentang tasawuf 
yang dikemukakan oleh Mulyadhi di atas, yaitu rohani, akhirat, esoterik, 
dan penafsiran batin. Keempat kata kunci ini menjelaskan bahwa tasawuf 
bukanlah wilayah empirik, orientasinya jangka panjang, dan untuk 
memahaminya perlu pemikiran yang mendalam dan perasaan yang halus.
Tasawuf beraliran substantif bukan formalis. Dengan konsep ini, 
sebagian orang ada yang latah mengatakan bahwa tasawuf tidak 
membutuhkan syariat. Tidak perlu salat asal kita baik, karena substansi 
agama katanya untuk menjadi orang baik. Ini hemat saya adalah keliru. 
Tidak perlu puasa, karena puasa adalah simbol, yang penting hatinya baik. 
Ini pun keluar dari konsep tasawuf.
Dalam konteks salat contohnya, konsep aliran substantif tasawuf 
hendaknya dipahami bahwa melaksanakan salat tidak cukup berhenti pada 
ibadah gerak dan bacaan. asawuf mengutamakan akhirat dari dunia bukan berarti 
meninggalkan dunia. Karena memprioritaskan akhiratlah, maka sikap sufi 
dalam mencari kekayaan menjadi berkurang. Tidak dengan demikian 
mereka mengingkari perlunya kekayaan. Kekayaan yang dipergunakan 
untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. patutlah dipahami disetujui 
oleh para sufi, walaupun itu bukan spesialisasi mereka. Dengan bahasa 
lain, mendekatkan diri lewat kekayaan bukan ―job‖ tasawuf.
Jabatan pun bisa dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada 
Allah Swt., tapi ini juga bukan job tasawuf. Contoh signifikan, atas 
kebijakan siapa pun, di setiap SPBU ada fasilitas (musala) untuk 
melaksanakan salat. Atas kebijakan itu, maka para musafir dimudahkan 
dalam melaksanakan salat. Mereka yang membuat kebijakan itu, tentulah 
yang memiliki jabatan tinggi, setidaknya di Pertamina. 
Dapat dipahami pengaruhnya terhadap kebaikan, jika seorang 
presiden mengeluarkan peraturan untuk setiap PNS wajib mengikuti salat
[5/3 10:53] i: jamaah setiap saat. Bagi yang melanggar 10 kali tanpa alasan yang kuat, 
akan dipecat dari PNS. Akibatnya dapat diduga, masjid akan penuh setiap 
saat, setidaknya seperti salat Jumat.
Penafsiran batin tidak dengan sendirinya mengeliminir penafsiran 
lahir.  Jika ada orang 
yang menyukai pemikiran Imam Syafi`i, tidak dengan sendirinya, ia 
menolak pendapat Abu Hanifah. Jika ada orang yang golput dalam 
pemilihan Kepala Daerah, tidak dengan sendirinya ia menyalahkan orang 
yang menggunakan hak pilihnya.
Nasaruddin Umar dalam Tasawuf Modern menulis judul kecil ―Jalan 
Mengenal dan Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt.‖. Judul kecil tersebut 
adalah representasi dari definisi tasawuf. Definisi ini lebih rendah 
supralogisnya dari yang didefinisikan oleh Harun Nasution di atas ―Jalan 
Menuju Tuhan‖.
Makna ―mengenal‖ masih ranah pengetahuan, sementara 
―mendekatkan‖ ranah praktis. sedangkan muridnya disebut sâlik
(yang sedang berjalan menuju Tuhan). Sâlik juga berarti yang menempuh 
jalan spiritual seperti posisi sahabat terhadap Nabi Muhammad saw. 
(Umar, 2015: 13).
Sâlikîn masuk dalam tarekat sebagai kendaraan untuk mengikuti 
perjalanan spiritual menuju Tuhan. Tidak semua yang masuk dalam tarekat 
ini sâlik. Sebagian murid tarekat hanya mutabarrik (yang mencari 
barakah). Mereka hanya mencari berkah dari tasawuf (eksoterik) (Totok 
Jumantoro dan Samsul Munir Amin/t.k: 201). Mutabarrik tidak mengikuti 
perjalanan spiritual.
[5/3 10:58] : Mutabarrik dalam tasawuf di Kabupaten Padang Lawas Utara 
banyak ditemukan dari dulu. Orang tua yang sudah pensiun dari pegawai 
negeri, mereka banyak melakukan aktivitas tabarruk fi al-tasawwuf 
(marpondok). Mereka memilih tempat, di mana ada ―guru tasawuf‖ yang 
lebih tepat barangkali disebut ―guru zikir‖ dan pembimbing ibadah. 
Mereka biasanya tinggal di tempat tidak permanen (pondok-pondok). 
Aktivitas mereka, selain rutin beribadah, membaca Al-Qur‘an juga 
berzikir. Beribadah baik salat maupun puasa, tentu di rumah pun bisa, tapi 
mendapat bimbingan berzikir inilah yang khas dalam kegiatan mereka.
Selain PNS yang telah pensiun yang bertabarruk, juga mereka orang 
tua yang semua anaknya sudah menikah, sehingga mereka berpikir bahwa 
tidak ada lagi tanggungan. Untuk itu mereka menilai lebih baik 
―marpondok‖ untuk lebih khusyuk beribadah menghadapi masa depan 
dipanggil oleh Allah. 
Tabarruk fi al-Tasawwuf di Kabupaten Padang Lawas Utara banyak 
menjadi budaya masyarakat. Mereka sesungguhnya tidaklah belajar 
tasawuf. Itulah yang disebut dengan budaya ―marpondok‖ bagi mereka 
yang umumnya sudah tua dari sisi umur. Mereka marpondok juga karena 
tidak lagi punya tanggungan dihidupi bahkan mereka dihidupi oleh anakanak mereka. Dengan demikian pengikutnya tidak sibuk lagi dengan 
mencari rezeki material. Kegiatan mereka lebih banyak beribadah baik 
yang wajib maupun yang 
puasa, dan sebagainya, dilihat orang dari luar tidak bahagia bahkan dilihat 
―menganiaya diri‖. Sementara mereka menjalani semua aktivitas .
Artinya, Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang 
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih 
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah 
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah 
Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Filsafat Islam yang menurut Mulyadhi Kertanegara berkembang 
pesat dalam tasawuf bagi para ilmuwan sekarang menjadi menarik. 
Menarik karena ia berupa mistik yang tidak masuk akal manusia, tapi 
kadang-kadang empirik  Harun Nasution mengatakan bahwa tasawuf adalah jalan menuju 
Tuhan. Kalimat memuat dua kata kunci penting, yaitu jalan dan tujuannya 
Tuhan. Sebagai jalan, tasawuf adalah salah satu jalan mengenal Tuhan. 
Jalan mengenal Tuhan bisa juga diartikan, jalan mendekatkan diri 
kepadaNya. Bisa juga maksudnya, metode sistematis untuk menuju Tuhan. 
Lebih teknis kelak dalam tasawuf dikenal dengan tarekat. Tarekat itu 
bagaikan organisasi yang memandu jalan menuju Tuhan
[5/3 10:48] Desri: Tujuan bertasawuf sebagaimana dikemukakan Harun Nasution 
adalah ―Menuju Tuhan‖. Terminal terakhir perjalanan itu adalah tempat di 
mana bisa bertemu dengan Tuhan. Bertemu dengan Tuhan, jangan 
dipahami secara fisik, walaupun ada yang berpendapat kelak di akhirat 
orang yang masuk surga dapat bertemu denganNya. Karena tasawuf adalah 
konsepnya di dunia, maka bertemu dengan Tuhan dapat dipahami secara 
spiritual.
Pengenalan epistemologis tentang tasawuf dikemukakan oleh 
Mulyadhi Kartanegara. Ia katakan bahwa tasawuf salah satu cabang ilmuilmu keislaman yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. 
Lebih lanjut Mulyadhi menjelaskan aspek spiritual menekankan aspek 
rohaninya ketimbang aspek jasmaninya. Tasawuf lebih menekankan 
kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia. Tasawuf lebih menekankan 
aspek esoterik ketimbang eksoterik, dan lebih menekankan penafsiran 
batin ketimbang penafsiran lahiriah.
Ada empat kata kunci yang perlu digarisbawahi tentang tasawuf 
yang dikemukakan oleh Mulyadhi di atas, yaitu rohani, akhirat, esoterik, 
dan penafsiran batin. Keempat kata kunci ini menjelaskan bahwa tasawuf 
bukanlah wilayah empirik, orientasinya jangka panjang, dan untuk 
memahaminya perlu pemikiran yang mendalam dan perasaan yang halus.
Tasawuf beraliran substantif bukan formalis. Dengan konsep ini, 
sebagian orang ada yang latah mengatakan bahwa tasawuf tidak 
membutuhkan syariat. Tidak perlu salat asal kita baik, karena substansi 
agama katanya untuk menjadi orang baik. Ini hemat saya adalah keliru.
[9/3 13:59] Ratna Murni Nasution: Tidak perlu puasa,karna puasa adalah simbol yang penting hatinya baik ini pun keluar dari  konsep tasawuf.dalam konteks shalat contohnya tasawuf mengutamakan akhirat bukan berarti meninggalakan dunia karna memprioritaskan akhiratlah ,maka sufi dalam mencari kekayaan menjadi berkurang tidak demikian mereka mengingkari perlunya kekayaan .kekayaan yang dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada allah  swt.patutlah disetujui dan dipahami oleh sufi walaupun itu bukan spesialisasi mereka.dengan bahasa lain,mendekatkan diri lewat  kekayaan bukn job tasawuf.contoh signifikan atas ebijakkqn itu,maka para musafir dimudahkan dalam melaksanakan shalat.

Postingan populer dari blog ini

AKSIOLOGI

FILSAFAT ISLAM(BERFIKIR)