perkembangan ilmu filsafat

PERKEMBANGAN ILMU FILSAFAT
email: ratnamurninasution@gmail.com

Artikel ini menyajikan uraian-uraian tentang pemikiran filsafat al-Ghazali. Mencakup di
dalamnya tentang fase-fase perkembangan intelektual dan pemikiran al-Ghazali mulai dari
Thus dan pengembaraannya ke berbagai negara sampai kembali ke Thus lagi, serta
karya-karya yang dihasilkan dalam pengembaraannya. Pengalaman intelektual dan spiritual
pengembaraannya dituangkan dalam karya otobiografinya dalam kitab al-Munqidz min
al-Dlalal. Di antara penilaian al-Ghazali tentang filosof, dalam dalam al-Munqidz: Pertama,
pengikut ateisme (al-Dahriyyun); kelompok ini merupkan golongan filosof yang mengingkari
Tuhan yang mengatur alam ini dan menentang keberadaanNya. Kedua, Pengikut faham
naturalisme (al-Thabi’iyyun); mereka merupakan golongan filosof yang setelah sekian lama
meneliti keajaiban hewan dan tumbuh-tumbuhan (alam atau thabi’ah) dan menyaksikan
tanta-tanda kekuasaan Tuhan. Ketiga, penganut filsafat Ketuhanan (ilahiyyun); mereka
adalah golongan filosof yang percaya kepada Tuhan, mereka para filosof Yunani seperti
Socrates, Plato dan Aristoteles, serta orang-orang yang mengekor pada pemikiran mereka.
Artikel ini juga mengeksplor tentang kritikan tajam alGhazali tentang filsafat dan para filosof
Yunani dan Muslim, di mana al-Farabi dan Ibnu Sina dikafirkan oleh al-Ghazali karena
pemikirannya tentang keabadiaan alam.
Kata kunci: Al-Ghazali, Pemikiran, Filsafat, Metafisika
Abstract
This article presents descriptions of al-Ghazali's philosophical thought. It includes the phases
of al-Ghazali's intellectual development and thought starting from Tus and his wanderings to
various countries until his return to Tus again, as well as the works produced in his
wanderings. The intellectual and spiritual experiences of his wanderings are outlined in his
autobiographical work in the book al-Munqidz min al-Dlalal. Among al-Ghazali's assessment
of the philosopher, in al-Munqidz: First, the followers of atheism (al-Dahriyyun); this group is
a group of philosophers who deny God who rules this universe and oppose His existence.
Second, followers of naturalism (al-Thabi'iyyun); they are a group of philosophers who after
so long researched the wonders of animals and plants (nature or tabi'ah) and witnessed the
signs of God's power. Third, adherents of the philosophy of God (ilahiyyun); they are a group
of philosophers who believe in God, they are Greek philosophers such as Socrates, Plato
and Aristotle, as well as people who follow their thoughts. This article also explores
al-Ghazali's sharp criticism of Greek and Muslim philosophy and philosophers, in which
al-Farabi and Ibn Sina were disbelieved by al-Ghazali because of their thoughts on the
eternity of nature.
Keywords: Al-Ghazali, Thought, Philosophy, Metaphysics
PENDAHULUAN
Membincangkan pemikiran Islam, lebih khususnya filsafat Islam, tidak akan lengkap jika
tidak memasukkan nama al-Ghazali di dalamnya. Namun, apabila seseorang ingin
menempatkan alGhazali dalam sejarah Filsafat Islam, ia harus membuat beberapa cacatan
awal. Titik tolak utamanya adalah bahwa al-Ghazali tidak menganggap dirinya filosof dan
tidak suka dianggap sebagai filosuf. Ini tidak hanya beberti bahwa al-Ghazali mempelajari
dan mengasimilasi filsafat secara mendalam sebagaimana terlihat dari daya tarik teoretis


dan kekuatan strukturnya, tetapi juga menyebabkan kita percaya bahwa filsafat pasti
mempunyai setidaktidaknya pengaruh tak langsung atas pemikiran tasawufnya. Lebih jauh
lagi, meskipun al-Ghazali –yang pada dasarnya seorang teolog, sufi, dan faqih menyarang
keras filsafat dengan berusaha menunjukkan kontradiksi-kontradiksinya, amatlah keliru jika
tasawuf dan teologinya hanya dianggap sebagai sekedar berupa doktrin praktis dan
religious, mengingat keduanya mempunyai kedalamn teoritis yang mengesankan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Biografi Ibnu Bajjah
Nama lengkapnya adalah Abū Bakr Muhammad ibn Yahya bin aṣ-Ṣaig dikenal dengan
panggilan ibn Bajjah. Ibn Bajjah berasal dari bahasa Perancis Maroko, maknanya
al-Fiddah), dan di Barat ia dikenal Avenpace. Lahir di Saragosa, Andalusia (Spanyol),
berasal dari keluarga at-Tujib, bekerja sebagai pedagang emas. Beliau dilahirkan pada
tahun 475 H/ 1082 M dan meninggal pada bulan Ramadan tahun 533 H / 1138 M di Fez.
Ibn Bajjah merupakan seorang sastrawan dan ahli bahasa yang unggul. Beliau salah
seorang penyair bagi dinasti al-Murabitūn yang dipimpin oleh Abū Bakr Ibrahim ibn Tafalwit.
Selain itu,
ibn Bajjah
Pemikiran Filsafat Ibnu Bajjah
Ibnu Bajjah sebagai tokoh utama yang dapat dikatakan sebagai pembangun jembatan
filsafat Islam di Barat itu tidak dapat diketahui banyak sejarahnya, dan tidak banyak karya
yang berhasil disempurnakannya. Namun demikian, dari sekian karya orisinilnya, ia berjasa
memperkenalkan filsafat Aristoteles secara mendalam. Namun, meskipun Ibnu Bajjah
sangat paham karya-karya Aristoteles, ia juga terpengaruh dari para filosof muslim
sebelumnya. Sebagaimana ditegaskan Ibnu Tufayl bahwa filsafat yang sampai ke tangan
kita, filsafat Aristoteles dan al-Farabi, Abu Ali (Ibnu Sina) dalam kitab as-Syifa‟, memiliki
tujuan yang sama dengan apa yang hendak dijelaskan Abu Bakar (Ibnu Bajjah). Di antara
pendahulunya, hanya satu yang paling sering dirujuk oleh Ibnu Bajjah, yang ia anggap
sebagai guru dalam bidang poitik, etika dan logika, yaitu al-Farabi, orang yang benar-benar
memahami filsafat Aristoteles dan dijuluki al-Ma’llim al-Awwal (Guru Pertama). Bahkan Ibnu
Sina, yang menyandangkan predikat al-Syaikh al-Ra‟is (Guru Utama), mendapatkan kunci
dalam memahami filsafat Aristoteles dari buku al-Farabi, yang berjudul fi Agradhi ma ba‟da
al-Thabi‟at.
Di samping al-Farabi mengembangkan emanasi yang dibawa oleh al-Kindi, ia juga menjadi
masyhur karena keberhasilannya memperkenalkan doktrin “Harmonisasi pendapat Plato
dan Aristoteles”, dan ia memulai wawancaranya dengan gagasan Plato tentang perlunya
menempatkan harmonisasi seperti itu pada landasan filsafat yang paling dasar. Meskipun
Aristoteles menolak
juga seorang ahli musik dan pemain gambus yang handal. Bajjah juga seorang hafiz
al-Qur'an. Bajjah berprofesi sebagai dokter, menguasai ilmu matematik, fisika, falak, logika,
filsafat, psikologi, astronomi, dan politik sehingga beliau dilantik menjadi menteri ketika Abū
Bakr Ibrahim berkuasa di Saragossa. Dalam bidang filsafat, ibn B±jah disetarakan dengan
al-Farabi, asy-Syam ar-Rais ibnu Sina dan Aristoteles.
Ibnu Bajah adalah orang pertama di Andalusia yang memulai periode penulisan buku
filsafat. Ibnu Bajah memiliki wawasan yang luas tentang filsafat Aristoteles dan Plato, serta
tertarik dengan pendapat-pendapat para filosof Muslim Timur, misalnya al-Farabi dan ibn

Sina. Pemikiran ibn Bajjah mirip dengan alFarabi dalam hal minat untuk menyendiri,
merenung, dan penalaran rasional.
Ibn Bajah hidup pada masa pemerintahan kaum Murabitūn yaitu suatu masa yang terkenal
dengan penindasan pemikiran para filosof. Pelanggaran hukum dan kekacauan melanda
seluruh negeri, mereka yang bermusuhan saling menuduh sebagai berbuat bid`ah demi
meraih keunggulan dan simpati masyarakat. Musuh-musuh ibn Bajjah telah mencapnya
sebagai ahli bid`ah, dinisbatkan sebagai pengonsep ta`til (konsep yang meniadakan sifat
Allah), berakidah rusak, dan beriman lemah. Beliau banyak mengalami cobaan dan
penderitaan serta celaan. Mereka beberapa kali berusaha untuk membunuhnya, tetapi Allah
menyelamatkannya dari usaha pembunuhan itu. Menurut satu riwayat, beliau meninggal
karena diracun oleh seorang dokter bernama Abū al-`Ala ibn Zuhri yang iri hati terhadap
kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya. Ibn Bajjah meninggal pada bulan Ramadan tahun 533
H / 1138 M di Fez dan dimakamkan di samping makam ibn `Arabi.
Karya Ibnu Bajjah
kebahagiaan yang tertinggi, yang merupakan tujuan akhir dari wujud manusia. (Kitab ini
diterbitkan oleh Dar Ṣadir, Beirut, cet. kedua 1992. Terdiri dari 11 pasal, 149 halaman,
ditahqiq oleh Muhammad Ṣagir Hasan al-Ma`ṣūmi).
c. Risalah al-Wada`, diterbitkan oleh Asin Balatsius di majalah al-Andalus, jilid kedelapan,
tahun 1943, halaman 1-87. Risalah tersebut juga dimuat oleh Fakhri di dalam buku Rasa'il
ibn Bajjah al-Ilahiyah, Beirut: Dar anNahar, 1968.
d. Ittiṣal al-`Aql bi al-Insan (Perhubungan Akal dengan Manusia), berisi uraian tentang
pertemuan manusia dengan akal fa`al. Asin memuatnya di majalah al-Andalus volume 7
tahun 1992, halaman 1- 47. Kemudian dimuat juga oleh al-Ahwani sebagai lampiran buku
Talkhiṣ Kitab an-Nafs li ibn Rusyd, terbitan Maktabah an-Nahdah al-Miṣriyyah, Kairo pada
tahun Kepribadian Manusia Menurut Ibn Bajjah (Masganti Sitorus & M. Idris) 100 1950 yang
berjumlah 108 halaman dan dimuat pula oleh Fakhri di buku Rasa'il ibn Bajjah al-Ilahiyah.
e. Fi al-Mutaharrik, membahas tentang dorongan pertama hewan, yaitu daya insting dan
dorongan pertama manusia, yaitu bahasa yang menjadi dasar berfikir.
f. Komentar terhadap logika al-Farabi, sekarang masih tersimpan di perpustakaan Escurial
(Spanyol).
g. Beberapa ulasan terhadap buku-buku filsafat antara lain dari Aristoteles, al-Farabi, dan
Porphyrius.
h. Kitab an- Nabat
i. Risalah al-Gayah al-Insaniyyah j. Kitab Tardiyyah
k. Fi al-Fahṣl `an al-Quwwah an-Nuzū`iyyah
l. Al-Wuqūf `ala al-`Aql al-Fa`al
penghubung antara alam atas dan bawah, antara realitas spiritual dan realitas material.
Tingkat keempat adalah jiwa manusia (alnafs al-insaniyah), sedangkan tingkatan kelima dan
keenam masing-masing adalah bentuk (s`urah) dan “materi” (h`ayula). H`ayula adalah
materi pembentuk benda dan bersifat nonfisik, sedangkan s`urah adalah bentuk konkret dari
h`ayula. Tiga tingkatan pertama dalam realitas spiritual merupakan wujud-wujud murni yang
sama sekali tidak berkaitan dengan bentuk-bentuk material; sedangkan tiga tingkatan
terakhir berhubungan dengan materi meski substansi ketiganya sendiri tidak bersifat
material.
Tingakatan-tingkatan wujud spiritual tersebut dikonversi oleh Ibnu Bajjah ke dalam wilayah
yang lain, yaitu wilayah psikologis manusia, dalam arti tindakan-tindakan manusia
ditentukan oleh bentu-bentuk spiritual yang mendominasinya. Al-Farabi juga tergolong filsuf
sinkretisme (pemaduan) yang percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat. Pemaduan dan


kesatuan ini juga dipakai Ibnu Bajjah untuk menjelaskan realitas orang-orang penyendiri
(mutawahhid). Dalam karya besarnya Tadbir alMutawahhid, ia menggambarkan “seorang
penyendiri”, atau seorang filsuf sebenarnya (genuine philosopher), sebagai orang yang
mencari keterhubungan (ittis`al) dengan Akal Aktif (Active Intellect). Istilah ini juga dimabil
dari al-Farabi untuk digunakan sebagai entitas spiritual yang harus dicapai manusia untuk
mendapatkan kebahagiaan puncak. Al-Farabi meyakini bahwa setiap manusia
sesungguhnya mempunyai “watak bawaan tertentu” yang siap meneria bentuk-bentuk
pengetahuan yang disebut intelek potensial (al‟aql bi al-quwwah). Intelek ini berisi
potensi-potensi yang akan mengabstraksikan bentuk-bentuk pengetahuan yang diserapnya
setelah meningkat menjadi intelek aktual (al-„aql bi al-fii’l).
Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam.
PENUTUP
Filsafat Ibnu Bajjah adalah bentuk filsafat yang tidak tuntas. Ia juga memperlihatkan suatu
usaha yang sangat bahwa pemikiran seharusnya independen dan tidak terpengaruh oleh
lingkungannya. Sebaliknya, pemikiran seharusnya dapat mempengaruhi realitas sosial.
Namun sangat disayangkan, kecemerlangan Ibnu Bajjah harus berhadapan dengan kondisi
psikologisnya sendiri yang belum sepenuhnya mampu untuk keluar dari gemerlap dunia
materi, sehingga filsafat mutawahhid seakan-akan menunjukkan hasrat intelektualnya yang
terpendam dan tidak tersampaikan. Sekalipun begitu, berbeda dengan pembacaan terhadap
Ibnu Bajjah pada umumnya, dalam hal ini konsepsi mutawahhid justru dapat dilhat sebagai
proses psikologis manusia meuju kedewasaan berpikir.
Bagaimana manusia mengatur tindakannya, baik tindakan fisik maupun mental, melalui
pertimbangan-pertimbangan akal universal yang lebih tinggi, tidak semata-mata melalui
ukuran makna material partikular atau hasrat keduniaan yang temporal, di mana
pertimbangan-pertimbangan tersebut dapat dicapai melalui keterhubungan dengan Akal
Aktif (al-„aql al-fa‟al) yang menyingkapkan Akal Perolehan (al-„aql al-mustafad). Sebagai
sebuah proses pendewasaan intelektual, kondisi penyatuan juga seharusnya
menyempurnakan tindakan-tindakan yang berdampak pada kalangan luas, tidak hanya
memperbaiki diri sendiri, di sinilah Ibnu
Bajjah tidak mampu memberikan jaminan perbaikan tersebut. Namun demikian, sekalipun
filsafat Ibnu Bajjah tetap dianggap belum selesai, hasil dari usaha intelektualnya tetap perlu
untuk diapresiasi sebagai sebuah pengingat bahwa filsafat (berpikir fiosofis) mampu
bersikap independen dan memberikan pengaruh yang membangun bagi perkembangan pemikiran selanjutnya


DAFTAR PUSTAKA
Sayyed Hossein Nasr, dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, (Buku Pertama), Bandung:
Mizan, 2003
A. Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, Cet, III, 2007
Muhammad Ṣagir Hasan al-Ma`ṣūmi, pengantar buku Kitab an-Nafs karangan ibn Bajjah,
Beirut: Dar Ṣadir, 1992
Ibn Bajah Tadbir al-Mutawahhid Tunis: Ceres, 1994
Muhammad `Usman Najati, ad-Dirasat an-Nafsaniyyah `inda al-`Ulama' al-Muslimin, , terj.
Gazi Saloom, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, cet. I, Bandung: Pustaka
Hidayah, 2002
Ibnu Tufail, Hayy bin Yaqdzon, terj. Nurhidayah, Yogyakarta: Navila, 2010
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam
Mehdi Ha‟iri Yazdi, Menghadirkan Cahaya Tuhan
Abdul Rahman Badawi, dalam Mausuat al-Hadharoh al-„Arabiyah al-Islamiyah.
A. Khudori Soleh, Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer, Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media 2013.

Postingan populer dari blog ini

AKSIOLOGI

rangkuman bab 1 tasawuf

FILSAFAT ISLAM(BERFIKIR)